Naja Bikin Jatuh Hati Bupati, Bupati Canangkan Satu Desa Satu Hafidz


Bupati Bantaeng DR H Ilham Azikin mencanangkan program 1 hafidz (penghafal Quran) untuk setiap desa dan kelurahan. Hal ini dikemukakan pada pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-32 tingkat Kabupaten Bantaeng, Senin malam (17/2), di Dampang, ibu kota Kecamatan Gantarangkeke.
Menurut bupati, program ini dimaksudkan sebagai motivasi kepada generasi muda Islam untuk menghafal Alquran. Juga, kata dia, diharapkan bisa melahirkan SDM yang lebih berkualitas sebagai bagian dari keberlanjutan pemerintahan.
“Program ini diharapkan bisa melahirkan generasi Bantaeng yang berbasis Alquran. Kita akan berdayakan pesantren-pesantren yang ada agar masyarakat, terutama generasi muda dapat semakin termotivasi untuk membaca dan menghafal Alquran dengan baik dan benar”, katanya.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel yang diwakili Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf H Rappe, mengaku takjub karena ramainya pengunjung MTQ. “MTQ ini memang tingkat Kabupaten Bantaeng, tetapi serasa seperti tingkat Provinsi Sulsel,” ucapnya.
MTQ ini dijadwalkan berlangsung 17-22 Februari. Memperlombakan sembilan cabang dan diikuti peserta utusan dari delapan kecamatan. Terdiri dari 416 putra dan 236 putri.

Waktu lalu pun Kisah inspiratif ditorehkan oleh seorang bocah  cilik asli Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kini tengah viral karena kemampuannya menghafal Al Quran.

Ialah Naja Hudia Afifurrohman, seorang hafiz cilik berusia 9 tahun  yang membuat publik berdecak kagum lantaran mampu menghafal 30 juz Al Quran hanya dalam waktu 10 bulan.

Jumat (31/5/2019)  Pemerintah Provinsi NTB melalui Sekda Provinsi NTB, H. Rosiady Sayuti, Phd memberikan kado spesial kepada Naja berupa Tabungan Pendidikan.

Bertempat di Masjid Hubhul Wathan Islamic Centre, Rosiady juga berkesempatan menguji hafalan Quran Naja. Selain Sekda Provinsi NTB, Imam Shalat Jumat asal Maroko, Ahmed Al-Alaoi juga menguji hafalan Quran Bocah asal Gomong tersebut.
"Masyaallah, seluruh bacaan yang dilafadzkan Naja tepat, tanpa kesalahan. Selain melanjutkan hafalan, Naja juga memberikan keterangan berupa nama surat,  halaman, hingga posisi ayat di Quran. Menakjubkan," terang Sekda.

Pada kesempatan tersebut, Ibunda Naja juga menceritakan perjalanan kisah mereka yang sangat inspiratif . Sebuah perjalanan yang menghantarkan Naja bisa sampai pada titik ini dan dikenal seluruh masyarakat Indonesia dan dunia.
Peserta hafiz Indonesia ini mengidap penyakit cerebral palsy atau lumpuh otak sejak lahir. Dilansir dari Hello Sehat, cerebral palsy ini terjadi karena adanya cedera pada bagian otak yang mengontrol kemampuan untuk menggunakan otot.

Ketika Naja lahir, sang ibunda, Dahlia Anjani mengaku syok ketika anaknya divonis penyakit berat ini. Meski begitu, sang ibunda sudah pasrah dan melakukan yang terbaik untuk Naja, karena merupakan amanah dari Allah.
“Ketika bayi, Naja selalu berhenti menangis jika didengarkan murottal Quran. Dia diam dan menikmati murottal” jelas sang Ibunda.

Ketika masuk sekolah TK, rupanya Naja sudah hafal Al Quran 3 juz, yakni juz 30, 29 dan 28.
"Pas masuk sekolah, gurunya bilang 'ini Naja sudah hafal 3 juz ma', katanya gitu, pas masuk TK," lanjut sang ibunda.

Karena informasi tersebut, sang guru lantas menyarankan agar Naja ini lanjut menghafal Al Quran. Ternyata, tak butuh waktu setahun bagi Naja untuk menjadi hafiz, atau orang yang menghafal Al Quran.
Naja ini cuma butuh waktu 10 bulan saja untuk menjadi hafiz, hafal Al Quran.
"Mulai Februari 2018, Ustaznya nyaranin perdengarkan saja, jangan semua, per halaman satu hari. Klau mampu ditambah satu halaman lagi. Pas November 2018 kemarin, Naja hafal 30 juz," tutup sang ibunda.