Kisah Hafna, 30 Tahun Ajarkan Anak Desa Mengaji Tanpa Harapkan Imbalan

Matahari tepat berada di atas kepala saat tim kendarinesia menyambangi rumah sederhana yang terletak di Desa Lambakara, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Tidak kurang dari 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan dari Kota Kendari.
Kami disambut dengan dua bangunan berdiri kokoh berseberangan dengan Balai Desa Lambakara. Sebuah bangunan semi permanen dan gubuk kecil yang dikelilingi tumbuhan liar dan sayur-mayur.
Gubuk yang berukuran 3x5 meter tersebut merupakan Taman Pengajian Alquran (TPA) yang diberi nama Al-Khairaat. Sebuah TPA yang dibangun swadaya secara sederhana oleh Hafna Attamimi (63).
Hafna merupakan warga sekitar yang telah mendedikasikan diri dan kekuatannya untuk 'memakmurkan' Alquran di desa setempat. Sosok wanita paruh baya tersebut mulai mengajarkan anak-anak membaca Alquran di desa sekitar sejak tahun 80-an. Hafna tak pernah memungut biaya selama mengajarkan Alquran kepada anak-anak desa.

WhatsApp Image 2019-06-30 at 11.05.30 PM.jpeg
Rumah Quran milik Hafna yang dibangun dengan uang pribadi. Foto: Attamimi/kendarinesia.
Saat ini, Hafna tinggal bersama sang anak, Muhammad Rajib, di atas rumah seluas 6x9 meter berdinding kayu yang tampak lapuk. Walau hidup beralaskan semen yang sudah rusak, niat mereka tak pernah pudar untuk membangun 'Rumah Quran' demi menggelorakan Alquran di desa sekitar.Hafna bercerita, saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Ambolodangge (Desa sebelah tempatnya saat ini bermukim), masyarakat sekitar belum baik dalam mengenal agama Islam.
Bahkan suatu ketika, lanjut Hafna bercerita, ayam mati tertabrak kendaraan pun masih saja dimakan karena saking warga desa tersebut tak mengenal Islam dengan baik. Hal itu hanya sekelumit kisah yang membekas di ingatan Hafna.
Mengetahui hal tersebut, niat baik bersama sang suami untuk mengajarkan agama Islam tumbuh besar hingga saat ini. Mereka mulai menanamkan cita-cita mulia tersebut untuk mengajarkan anak-anak sekitar membaca dan menulis ayat-ayat Alquran hingga akhir hayat.

WhatsApp Image 2019-06-30 at 11.02.30 PM.jpeg
Hafna Attamimi di depan Rumah Quran miliknya, Foto: Attamimi/kendarinesia.
Namun, sang suami lebih dulu menyusul kepada Sang Pencipta. Sepeninggal sang suami, Hafna mulai menanamkan niat baik tersebut kepada sang anak untuk melanjutkan perjuangan suaminya.
Hafna mengaku, pernah terbersit di hati kecilnya untuk meninggalkan kampung itu dan tingggal bersama sanak saudaranya. Namun, niat tersebut diurungkan. Ia kembali memantapkan hati untuk melanjutkan perjuangan mulia itu.
"Bisa saja kalau saya meninggalkan kampung ini, tapi bisa-bisa anak-anak ini tidak bisa belajar Alquran lagi," kata Hafna.
Hafna mengaku sangat bersyukur karena sang suami bisa membeli tanah di ujung kampung untuk membangun 'istana kecil' mereka di hari tua. "Dulu bersama suami kami mulai bercita-cita memakmurkan Alquran di desa ini," ujar Hafna.
Selama tinggal di kampung tersebut, ia mengaku sangat bersyukur. Soal kebutuhan pangan, bermodalkan tanah yang cukup luas, Hafna dan anaknya menanam beragam tanaman buah dan palawija, sehingga tak pernah kelaparan.
"Kami tidak susah tinggal di sini, tidak ada nasi, pisang dan ubi pun bisa menjadi pengganjal perut. Jadi kami tidak pernah khawatir. Intinya kita harus sabar," kata Hafna di sela-sela menggoreng pisang yang berasal dari Palu, hasil pemberian dari anak saudaranya yang dihidangkan kepada kami.

WhatsApp Image 2019-06-30 at 11.05.39 PM.jpeg
Rumah Quran milik Hafna Attamimi, Foto: Attamimi/kendarinesia.
Hingga akhirnya, pertengahan tahun 2018, ia bersama sang anak bisa mengumpulkan dana dan membangun 'Rumah Quran' sederhana tepat di sebelah rumah mereka. Sumber dana yang dihasilkannya itu salah satunya berasal dari ternak ayam kampung.
Sebidang tanah miliknya digunakan sebagai tempat memelihara ayam-ayam kampung. Sang anak lah yang hingga kini telaten dalam memelihara ayam hingga bisa diperjualbelikan.
"Ini kita punya ayam pelihara sendiri terus jual, hasilnya bisa dipakai kehidupan sehari-hari. Sedikit-sedikit buat bantu bunda bangun TPA," kata Rajib, anak Hafna.
Saat ini, anak didik TPA Al-Khairaat tidak kurang berjumlah 30 orang anak yang berasal dari desa sekitar. Setiap sore, puluhan anak-anak yang berasal dari Desa Ambolodangge, Lambakara, dan Ambesea berjalan kaki sejauh 1 kilometer untuk belajar Alquran. Anak-anak tersebut berasal dari kalangan keluarga tidak mampu yang selama ini telah diasuh oleh Hafna.
Tanah lokasi berdirinya TPA tersebut telah ia wakafkan untuk membangun dan memakmurkan agama Islam dan Alquran. Sehingga, ke depan ia berniat akan memperbesar TPA tersebut agar bisa menampung banyak jemaah yang tidak hanya dari kalangan anak-anak.