Setelah Melahirkan, Ia "Pingsan" di WC Sampai 2 Jam dan Hampir Meninggal. Setiap "Tindakan" Dari Suaminya Membuatnya Memutuskan Untuk "Bercerai"!
Wanita bernama Ellen ini sudah berumah tangga selama 2 tahun, dan baru saja melahirkan anak pertamanya. Saat masih dalam masa perawatan, ia meminta cerai kepada suaminya, mendengar isi curhatannya di telepon, benar-benar membuat hati sedih...
Ternyata, saat Ellen melahirkan anaknya, setelah menahan sakit selama sehari lebih di rumah sakit, dia baru dibawa masuk ke ruang bersalin. Dan dalam ruang bersalin, ia harus berjuang, mengulang dan mengulang hingga dua jam lebih, dan dengan susah payah melahirkan anaknya. Karena kepala bayi ini cukup besar, dan Ellen terlalu bertenaga mendorongnya, bagian bawah Ellen robek cukup parah dan mengakibatkan pendaharan serius.
Robekan dijahit beberapa jahitan, dan tanpa obat bius, ia menghadapi kesakitan yang bertubi-tubi. Sakit menahan kelahiran, sakit saat melahirkan, sakit karena robekan, dan sakit karena jahitan. Ellen pun hampir meninggal karena ini.
Namun untung saja ia berhasil melewatinya. Setelah keluar dari ruangan bersalin, ia melihat hanya suaminya seorang diri yang menunggunya di kamar pasien, sambil menggendong sang bayi.
Sebenarnya, saat ia di rumah sakit bersalin, keluarga dari si suami, sekitar 7-8 orang juga datang. Dan saat Ellen sedang kesakitan luar biasa di ruang bersalin, mereka sekeluarga ngobrol dan bercanda di kamar pasien. Setelah Ellen selesai melahirkan, dan setelah melihat bayinya, tanpa menunggu Ellen keluar, mereka satu persatu meninggalkan rumah sakit dengan alasan capek dan ingin beristirahat, hanya tersisa suaminya seorang diri.
Ellen juga tidak menghiraukannya, dalam hati ia berpikir, yang penting suami perhatian sudah cukup, yang lain biarkanlah.
Sampai sore hari, mertua Ellen datang membawa makanan, Ellen mengira mereka datang di malam hari untuk menjaga cucu, namun sebelum Ellen menyelesaikan makanannya, mereka sudah pulang duluan.
Saat malam tiba, setelah suami Ellen selesai memberi makan si bayi, ia pun tidur di kasur pasien yang kosong. Ia tertidur dengan sangat nyenyak, hingga ketika malam hari anaknya menangis karena ngompol pun, Ellen tak dapat membangunkannya. Awalnya ia kasihan dengan suaminya, karena mungkin seharian sudah kurang tidur, ia pun tak membangunkannya lagi, dan dengan perlahan membersihkan pipis bayinya.
Setelah menidurkan anaknya, sekarang giliran Ellen yang kebelet pipis. Dokter pernah berpesan padanya untuk tidak menahan pipis, saat ingin pipis harus pergi ke WC, dan harus ditemani oleh orang lain, karena ia mengalami pendarahan besar, khawatir bisa pingsan tiba-tiba.
Ellen kembali memanggil suaminya, namun suaminya tak kunjung bangun. Ia pun memutuskan untuk pergi ke toilet sendiri, sebab pikir dia, dia sudah berbaring cukup lama, harusnya sudah baik-baik saja.
Karena dijahit, ia hanya bisa pipis sambil setengah jongkok. Setelah selesai pipis dan hendak menaikkan celana, pandangannya tiba-tiba langsung gelap dan tak sadarkan diri.
Setelah siuman, ia merasa seluruh badannya sangat sakit, dan dirinya masih berada dalam toilet. Dalam kamar pasien, anaknya tak berhenti menangis. Ia ingin segera menggendong dan menenangkannya, namun untuk berdiri saja ia tak sanggup.
Saat salah seorang suster melewati kamarnya dan mendengar suara bayi menangis, ia masuk dan melihat Ellen sedang terjatuh di toilet, suster pun segera menolongnya berdiri, dan dengan keras memanggil suaminya bangun. Setelah dipanggil berkali-kali, suaminya pun bangun bertanya apa yang sedang terjadi.
Setelah mereka berdua membantu Ellen naik ke atas kasur, susternya menyalahkan suaminya sambil berkata, "apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu malah tertidur lelap, bahkan sampai istri mu pingsan di kamar mandi pun kamu tidak tahu? Anakmu menangis dengan sangat keras dan lama, kamu pun tak terbangun. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada mereka?"
Mendengar suster menyalahkan suaminya, Ellen yang lemah ini tak dapat mengeluarkan satu kalimat pun.
Karena pingsan di toilet selama dua jam, Ellen langsung demam tinggi. Untung saja saat itu masih berada di rumah sakit. Jika tidak, mungkin nyawanya sudah tak tertolong. Ellen berada di rumah sakit sampai hampir 10 hari. Suaminya meskipun awalnya cukup khawatir dan perhatian, namun setelah 3 hari keluar dari rumah sakit, setiap malam ia langsung tertidur lelap seperti biasanya.
Mendengar tangisan Ellen, saya pun jadi sedih, baru saja melahirkan anak dan pingsan di kamar mandi selama dua jam tanpa ada yang menyadari, sungguh bisa merenggut nyawanya. Jikalau saya, mungkin sudah tidak tahan lagi hidup bersama.
sumber: happy
http://www.cerpen.co.id/post_145047.html
