Saat Menjemur Baju, Suamiku "Tiba-tiba Meminta Cerai". Saat Mendengar "Kalimat Ke-2"nya, Aku Berasa Seperti Sedang di Neraka!
Suatu hari saat aku menjemur baju, suamiku tiba-tiba berkata, "aku ingin kita bercerai!", dia tampak sangat serius menyatakannya, tak seperti sedang bercanda. Aku menaruh sisa baju ke dalam keranjang, lalu masuk ke rumah dan duduk hendak mendengar penjelasannya.
Saat itu, yang pertama kali aku pikirkan adalah, "mungkin saham yang dia beli sedang anjlok! atau masalah kerjaan lainnya.", langsung timbul perasaan bahwa aku harus bertahan menemaninya dalam masa sulit dia.
Tapi kalimat ke-dua dia sungguh membuat hatiku hancur berkeping-keping, "istriku, aku mencintai orang lain!"
"sejak kapan?", aku tak percaya, dan mencoba tenang walau detak jantung berdetak semakin kencang.
Dia berkata, "sudah setengah tahun, aku mengenalnya saat liburan kantor. Dia adalah pemandu kami, baru lulus, orangnya polos, ramah, dan...", ia tiba-tiba menghentikan ucapannya, mungkin dia sadar dia sudah terlalu banyak "memuji" wanita tersebut di depan aku.
Aku bertanya, "seberapa cinta?", sambil bertanya, air mataku mulai menetes!
"Sangat cinta.", ucapnya.
Sambil menghela napas, aku berkata, "lakukanlah sesuai dengan kemauanmu. Akhirnya ada orang yang membawamu pergi dari aku. Aku sangat berterima kasih padanya."
Dia menatapku dengan sangat terkejut!
Sebelum menandatangani surat perceraian, dia mengajak ku untuk makan malam, dan minum beberapa gelas alkohol, wajahnya mulai memerah, "aku berharap kamu bahagia kelak!", ucapnya, ia bahkan masih mengungkit-ngungkit calon istri barunya, "aku tak sabar ingin memulai hidup baru bersama dia, meski sekarang masih sangat deg-deg'an.".
Disa sudah mabuk, tak henti-henti ia memuji wanita tersebut di depanku!
Aku pun memotong pembicaraanya, "mulai dari hari ini, aku bukan lagi istri tua mu, aku bukan lagi pembantu mu yang tak diberi gaji!" satu kata demi satu kata aku ucapkan, "sekarang aku akhirnya menghemat uang untuk membeli bajumu, aku dapat membeli baju bagus untuk diriku sendiri."
"aku tak perlu lagi melipat selimut mu yang berantakan, memasak nasi setiap hari, saat aku malas masak, aku tinggal membeli di luar. Dan lebih lagi, aku tak perlu lagi mencarimu dari satu jalan ke jalan lain saat kamu mabuk!"
"Iya, cerai memang jalan yang baik!", selesai mengucapkan semua ini, seluruh wajahku dibanjiri air mata! Ini pertama kalinya aku begitu emosional, tak dapat menahan diri!
Ia menatapku, dan mulai panik, "kamu sudah mabuk! Aku antar pulang.", ini adalah tanda minta maaf dari dia.
Emosi ku belum selesai, dia boleh mencintai orang lain, tapi tak bisakah dia mendengar suara hatiku? Aku bertanya padanya, "apakah aku tak pernah polos? Apakah aku tak pernah muda?"
"Aku tak membeli baju baru, karena aku tahu anak kita harus membayar uang sekolah, uang les..."
"Sekarang kamu merasa dia muda dan polos, kamu sangat tertarik padanya, yang ia berikan padamu, sudah aku berikan terlebih dahulu 10 tahun yang lalu. Habiskanlah waktumu dengannya, suatu hari kamu akan mengulangi lagi drama ini! Apakah kamu kira aku tak pernah mencintaimu 100%? Aku pernah!"
"Namun seteah menikah, aku harus membagikan 10% pada anak, 20% pada mertua, dan juga orang tua ku sendiri. Apakah kamu merasa aku kurang memperhatikanmu? Kamu mengira aku cuma mencintai mu 50%, tapi kamu tidak tahu sejak awal aku sudah mengorbankan 100% cinta ku padamu terlebih dahulu!"
Akhirnya ia bersikeras tak jadi bercerai, aku menanyakan alasannya, ia berkata, "saat kamu sadar, kamu tak memarahiku hingga tersadar! Namun saat kamu mabuk, aku dimarahimu hingga tersadar!
"Posisi mu di keluarga ini tak ada yang dapat menggantikan! Tak ada orang lain yang lebih mengertiu selain daripada kamu. Juga tidak ada orang yang dapat menggantikan posisimu di hati anak kita!", aku menatapnya, dia kembali berkata, "aku giat bekerja selama ini, demi membangun keluarga yang indah, dan aku hampir saja menghancurkan seluruh kerja keras ku dengan tangan ku sediri."
"Istriku, maafkan aku! Ternyata orang yang selalu mencintai aku ada di samping aku, hanya aku kurang menyadarinya!"
Wahai para pria! Perhatikan istrimu baik-baik di rumah, apa yang sudah dia kerjakan, berapa banyak yang sudah ia korbankan?
Kamu bekerja di luar sana, dia diam-diam mendukungmu dari belakang! Lalu, untuk apa kamu mencari pengganti lagi?
sumber: pixpo
http://www.cerpen.co.id/post_146224.html
